HUBUNGAN KEBIASAAN MAKAN DAN RIWAYAT KELUARGA DENGAN KADAR ASAM URAT PADA PENDERITA HIPERURISEMIA

Main Article Content

Nurul Munziah
Saiful Bakri

Abstract

Hiperurisemia merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar asam urat serum pada orang dewasa lebih dari 7,0 mg/dl pada pria dan lebih dari 6,0 mg/dl pada wanita. Bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan makan dan riwayat keluarga dengan kadar asam urat pada penderita Hiperurisemia di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Alam Banda Aceh. Penelitian ini bersifat deskriptif Analitik dengan desain Crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita hiperurisemia yang rawat jalan di Puskesmas Kuta Alam Banda Aceh sebanyak 45 orang ditentukan berdasarkan cara Accidental Sampling. Pengukuran kadar asam urat menggunakan Easy Touch GCU, kebiasaan makan menggunakan form SQ-FFQ (Semi Quantitative-Food Frequency Questionnaire), dan riwayat keluarga menggunakan kuesioner. Analisis univariat dilakukan secara deskriptif, sedangkan bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square test dengan nilai α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan sumber purin kategori kurang baik dengan kadar asam urat tinggi sebesar 81%, sedangkan yang memiliki riwayat keluarga penderita asam urat dengan kadar asam urat tinggi sebesar 84,6%. Kebiasaan mengkonsumsi protein dengan kadar purin tinggi dan riwayat keluarga berhubungan dengan peningkatan kadar asam urat pada penderita Hiperurisemia di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Alam Banda Aceh. Memberikan informasi dan edukasi berupa pemilihan makanan yang tepat untuk mengontrol kadar asam urat atau mencegah penyakit hiperurisemia.

Article Details

Section
Articles

References

Andry, Saryono, & Upoyo, A.S. (2009). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kadar Asam Urat pada Pekerja Kantor di Desa Karang Turi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal Of Nursing). Volume 4 No. 1 Maret 2009.

Astuti., Saryono., Upyo, A.S. (2009). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kadar Asam Urat pada Pekerja Kantor di Desa Karang Turi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Purwokerto : Jurnal Keperawatan Soedirman (The soedirman Journal of Nursing), Vol. 4 No. 1. Maret 2009:26-31.

Budiono, A., Manampiring, A.E., & Bodhi, W. (2016). Hubungan Kadar Asam Urat dengan Status Gizi Pada Remaja di Kecamatan Bolangitang Barat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Jurnal e-Biomedik (eBm). Vol. 4, No.2.

Indriawan, I. (2009). Asam Urat. JICA Press, Malang. Halaman 38.

Jaliana., Suhadi., & Sety, L.O.M. (2018). Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Asam Urat pada Usia 20-44 Tahun di RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2017. Jurnal Imiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat. Vol 3/No.2;ISSN 2502-731X.

Kant, I., Pandelaki, A.J., & Lampus, B,S. (2013). Gambaran Kebiasaan Makan Masyarakat di Perumahan Allandrew Permai Kelurahan Malalayang I Lingkungan Xi Kota Manado. Jurnal Kedokteran Komunitas dan Tropik. Vol. 1, No.3.

Nurhayati. (2018). Hubungan Kebiasaan Makan dengan Terjadinya Penyakit Gout (Asam Urat) di Desa Limran Kelurahan Pantoloan Boya Kecamatan Taweli. Jurnal KESMAS, Vol 7, No. 6.

Ridhoputrie, M., Karita, D., & Kusumawati, A. (2019). Kebiasaan Makan dan Riwayat Keluarga dengan Kadar Asam Urat Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas I Kembaran, Banyumas, Jawa Tengah. Jurnal Medicine. Vol 2/No.1;2620-567X.

Spieker EL., Ruschitzka TF., Luscher FT & Noll G. (2002). The Management of Hyperuricemia and Gout in Patient with Filure. The European Journal of Heart Failure, 2002(2), 403-410.

Talarima. B., Amiruddin. R. Asrin. A. A. (2012). Faktor Risiko “Gout Arthritis” di Kota Masohi Kabupaten Maluku Tengah 2010. Makara Kesehatan Vol. 16 NO. 2, Desember 2012:89-94.