PENGUKURAN CONTAINER INDEX SEBAGAI GAMBARAN KEPADATAN NYAMUK DI DAERAH ENDEMIS
Main Article Content
Abstract
Banyuwangi merupakan salah satu daerah dengan kejadian Demam Berdarah (DBD) yang tinggi. Kepadatan jentik nyamuk menjadi salah satu penyebab tingginya kejadian DBD tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepadatan jentik nyamuk pada tempat penampungan air (TPA) di SDN Model Banyuwangi, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2017 dengan menggunakan desain cross sectional descriptif. Pengambilan sampel dengan menggunakan total sampel. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan jumlah kepadatan jentik serta gambaran tempat perindukan nyamuk. TPA yang diperiksa berjumlah 26 TPA. Jenis TPA yang paling banyak ditemukan jentik nyamuk adalah bak mandi dan bak WC. Nilai Container Index (CI) yang didapatkan pada seluruh TPA sebesar 38,46%. Selain, itu Angka bebas jentik (ABJ) yang didapat dari penelitian tersebut sebesar 61,54%. Berdasarkan indicator CI dan ABJ,,tingkat kepadatan jentik nyamuk dan penularan DBD di sekolah tersebut masih tinggi.Oleh karena itu, perlu dilakukan peningkatan kebersihan tempat penampungan air di sekolah dan pembentukan kader jumantik sebagai upaya pemberantasan jentik nyamuk.
Article Details
References
Karyanti MR, Uiterwaal CS, Kusriartutu R, et al. The Changing Incidence of Dengue Haemorrhagic Fever in Indonesia: a 45-year registrybased analysis. BMC Infectious Disease. (2014).
World Health Organization. Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever. Fact Sheets WHO. (2015)
Kesehatan, R. I. "Data dan Informasi Tahun 2015 (Profil Kesehatan Indonesia)." Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2016).
Kesehatan, R. I. "Data dan Informasi Tahun 2016 (Profil Kesehatan Indonesia)." Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2017).
Dinkes Banyuwangi. Profil dinas kesehatan Banyuwangi 2016, Banyuwangi: (2017)
RSUD Belambangan. Data Sekunder Rekam Medis Rawat Inap Demam Berdarah 2014- 2015. RSUD: (2015)
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Modul pengendalian demam berdarah dengue. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; (2011)
WHO. Dengue Haemorrhagic fever. Diagnosis, treatment, prevention and control : (2004). Thammapalo, Suwich, Yoshiro Nagao, Wataru Sakamoto, Seeviga Saengtharatip, Masaaki Tsujitani, Yasuhide Nakamura, Paul G. Coleman,dan Clive Davies. Relationship between Transmission Intensity and Incidence of Dengue Hemorrhagic Fever in Thailand. PLoS Neglected Tropical Disease: (2008).
Queensland Government. The Queensland Dengue Management Plan 2010-2015. Fortitude Valley: Queensland Health: (2011).
berdarah dengue di Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2005.
Anggraeni DN. Stop! demam berdarah dengue. Bogor: Bogor Publ House; 2010.
Barrera R, Delgado N, Jimenez M, Valero S. Eco- epidemiological factors associated with hyperendemic dengue haemorrhagic fever in Maracay City, Venezuela. Dengue Bulletin. (2002)
Strickman D, Kittayapong P. Dengue and its vectors in Thailand: calculated transmission risk from total pupal count of Aedes aegyptiand association of wing-length measurement with aspect of the larval habitat. The American Society of Tropical Medicine and Hygiene. (2003)
Prasetyowati H, Marina R, Hodijah DN, Widawati M, Wahono T. Survey jentik dana aktivitas Aedes sp. Di pasar Wisata Pangandaran. Jurnal Ekologi Kesehatan : (2014)
Maksud A, Udin Y, Mustafa H, Risti, Jastal. Survei jentik DBD di Alim, dkk. Tingkat Kepadatan Jentik Nyamuk tempat-tempat umum (TTU) di Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Jurnal Vektor Penyakit : (2015)
Service MW. Mosquito Ecology Field Sampling Methods. Chapman and Hall. London. (1993)