SOLONG SERGAP (SOLONG SETOR SAMPAH CEGAH ISPA) SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LINGKUNGAN SOLONG, BANYUWANGI
Main Article Content
Abstract
Menurut WHO (2016) kasus ISPA di dunia sebanyak 18,8 miliar dan menyebabkan kematian sebanyak 4 juta orang per tahun. Berdasarkan data dari Puskesmas Klatak pada tahun 2016 hingga 2017 Infeksi Saluran Pernapasan Akut merupakan peringkat pertama dalam 10 besar tertinggi daftar penyakit yang ada, faktor pendukungnya yaitu kepadatan penduduk, kepadatan hunian, polusi udara dan sanitasi lingkungan yang buruk. Berdasarkan FGD awal yang dilakukan bersama masyarakat dan aparat desa Kelurahan Klatak, masyarakat menilai bahwa kualitas udara sekitar adalah pemyebab terbesarnya. Lingkungan Solong, kelurahan Klatak diduga sebagai wilayah dengan dampak pencemaran udara tertinggi akibat lokasinya yang dekat dengan area industri pabrik dan pembakaran sampah ilegal yang dilakukan oleh warga setempat. Tujuan Program Solong Sergap adalah untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan mengenai pemilahan dan pengolahan sampah hingga praktek dalam mengolah sampah. Melalui artikel ini, penulis menyampaikan perencanaan hingga implementasi Program Solong Sergap berdasarkan Teori Dignan. Metode yang dilakukan yaitu secara observasional menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian yang bersifat deskriptif. Hasil dari kegiatan ini yaitu terbentuknya kelompok Solong Sergap yang bertugas untuk mengontrol penyetoran sampah baik organik maupun anorganik. Indikator keberhasilan kegiatan ini yaitu tingkat kehadiran peserta dalam kegiatan Solong Sergap sebesar 75%, peserta Solong Sergap mampu memilah sampah anorganik dan organik dan peserta Solong Sergap menyetor sampah anorganik tiap 2 hari sekali. Berdasarkan indikator keberhasilan yang ada, kegiatan ini sudah mencapai target. Kesimpulan yang didapatkan yaitu program Solong Sergap cukup efektif dalam mengurangi frekuensi pembakaran sampah di Lingkungan Solong. Saran yang dapat diberikan yaitu intensitas komuniaksi penanggung jawab kegiatan lebih sering kepada peserta kegiatan yang bertujuan supaya kegiatan berkelanjutan.
Article Details
References
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta. Kementrian Kesehatan RI (2009)
WHO. Pneumonia. Geneva: World Health Organization. (2016)
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta : (2017).
WHO. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang cenderung menjadi epidemi dan pandemic. Jenewa. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization). Jenewa : (2017)
Akinyemi, Joshua Oduyano dan Oyewale Mayowa Morakinyo. Household environment and symptoms of childhood acute respiratory tract infections in Nigeria, 2003–2013: a decade of progress and stagnation. University of Ibadan (2018)
Nirmolia, N., Mahanta, T. G., Boruah, M., Rasaily, R., Kotoky, R. P., & Bora, R. (2018). Prevalence and risk factors of pneumonia in under five children living in slums of Dibrugarh town. Clinical Epidemiology and Global Health, 6(1), 1–4.
Puskesmas Klatak. 2018. Profil Puskesmas Klatak. Banyuwangi. Puskesmas Klatak
Dignan, M.B., and Carr, P. A. 1992. Program Planning for Health
Educational adan Promotion 2 nd Edition. USA: Lea and Febiger.